Sugeng dalu teng Mahaleta
Rabu, 3 September 2014. Mungkin itu bisa disebut sebagai salah satu tanggal yang paling sejarah dalam hidupku.Pada tanggal itu aku pertama kali menginjakkan tanah di Pulau terjauh yakni Pulau Sermata, Kabupaten Maluku Barat Daya, Kecamatan Mdona Hyera, Desa Mahaleta.Rasa sedih bercampur suka menyelimutiku saat itu.Sedih karena harus berpisah jauh dari orang tua dalam waktu yang cukup lama tapi itu semua seakan mulai terhapus oleh rasa takjub, kagum, dan perasaan senang yang luar biasa ketika tahu bahwa Nusantara Indonesia itu begitu indah.Kedatangan kami ber Sembilan belas di sambut meriah oleh para penduduk asli pulau sermata. Dan akhirnya setelah 4 hari kami semua “meginap” di kapal, (Sabuk Nusantara 43), kami semua dapat menghirup udara segar sambil bermain dan bernyanyi bersama anak-anak tuhan. Lagu “Kami Peduli” merupakan lagu yang membakar semangat kami saat pertama kali mengetahui betapa indahnya Nusantara Indonesia ini.
Hari
itu teman-teman ku bermalam di rumah Kepala Sekolah SDK Mahaleta, Bapak
Lakburlawal. Dan aku bersama partnerku
yang punya badan paling besar diantara kami, Edy Noviyanto, yang biasa ku
panggil “Ndut” bermalam di kediaman Bapak Woriwun bersama keluarga. Ini di
karenakan Aku dan Ndut memamg bertugas di Desa Mahaleta, dan teman-temanku yang
lain bertugas di Desa-desa yang lain seperti Desa Elo, Desa Rotnama, Desa
Rumkisar, Desa lelanag (Ibu Kota Kecamatan, Red), Desa Luang Timur dan Desa
Luang Barat.
Pulau
Sermata ini merupakan salah satu pulau di Maluku yang bisa dikatakan pulau yang
“terisolir”.Ini dikarenakan sulitnya jangkauan yang ditempuh, karena hanya bisa
menggunakan kapal laut itu pun membutuhkan waktu 3-4 hari.Selain itu di sini
juga belum ada jaringan listrik dan sinyal. Jadi setiap malam, tepatnya pukul
19.00 masyarakat disini menyalakan diesel
pribadi mereka untuk menerangi rumah mereka serta dipergunakan menonton tv atau sekedar men-charge barang-barang elektronik mereka. Untuk masalah
telekomunikasinya mereka masih menggunakan Radio Telekomunikasi Daerah
(Ratelda) atau paling yang sering digunakan adalah berkirim surat.
Pertama
kali aku masuk sekolah terjadi di hari Jum’at, 5 September.Dengan menggunakan Tenue Batik aku mulai menebar
jarring-jaring ilmu pendidikan.Kelas VIII merupakan kelas perlabuhan
pertamaku.Sekolah ku ini merupakan sekolah yang baru di resmikan.SMP Negeri
Mahaleta, merupakan salah satu SMP Negeri yang ada di Pulau Sermata. Siswanya
tidak terlalu banyak, di kelas VII hanya terdapat 12 siswa, kelas VIII ada 17
siswa, dan kelas IX, yang nanti ujiannya masih harus ikut dengan SMP N 1 Mdona
Hyera, berpenghuni 12 siswa. Hari senin pertama di Mahaleta, merupakan hari
yang cukup membikin deg- degan. Hari itu pertama kali aku memakai baju dinas
Pegawai Negeri, atau yang biasa disebut dengan “baju keki”. Masih di hari yang
sama ketika aku sehabis pulang sekolah, bapak Woriwun, yang merupakan PLH di
SMP ku sekaligus menjadi Bapak Piaraku, mengajak kami berdua untuk mengikuti
acara pelepasan muris SDK Mahaleta ke SD Negeri Romdara. Itu merupakan acara
pesta yang pertama kali ku ikuti di disini.Yang paling ku kagumi dari penduduk
disini adalah pada saat acara ramah-tamah ataun makan-makan, mereka telah
menyiapkan makanan khusus untuk aku dan ndut sendiri. Mereka memisahkan makanan
bagi kaum nasrani dan kaum muslim. Hal itu semakin membuatku yakin ternyata
rasa social dan kepedulian mereka
sangatlah tinggi.
Keluarga
baruku disini orangnya sangat baik sekali.Keluarga ini terdiri dari Bapak Junus
Woriwun, atau yang paling akrab di sapa bapak JW, lalu ada istrinya yang biasa
ku panggil Mama Ichi.Mereka mempunyai empat anak, tiga perempuan dan satu
laki-laki.Yang pertama bernama Kak Katy, dia sudah menikah dan mempunyai dua
anak yang masih kecil, Uliana dan Shinta.Anak yang kedua bernama Eta, dia
sedang ada di Tepa, untuk bersekolah kelas 12 SMA.Selanjutnya bernama Elsa, dia
masih duduk di bangku kelas VIII SMP. Dan yang paling bungsu sekaligus
laki-laki satu-satunya yaitu Apsalom, dia sekarang sudah kelas VI SD. Tapi
sekarang anak bapak Woriwun dan Mama Ichi bukan lagi empat orang melainkan
menjadi enam orang, ini dikarenakan masuknya namaku dan Edy sebagai anak mereka
juga, hehehe


Komentar
Posting Komentar