Tanamkan Cara Menghitung Peluang Melalui Koin dan Dadu di SMP Negeri Mahaleta



Pendewasaan dapat dicapai dari proses belajar, yaitu belajar dari masalah, sehingga ia mempunyai banyak pengalaman dalam menyelesaikannya. Pengalaman dapat memberikan sumbangan terhadap apa yang sedang dipelajari seseorang, sehingga dapat memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi. Masalah setiap orang akan berbeda, begitu pula cara mengatasinya. Suatu situasi dikatakan masalah bagi seseorang jika ia menyadari keberadaan situasi tersebut, mengakui bahwa situasi tersebut memerlukan tindakan dan tidak dengan segera dapat menemukan pemecahannya. Sedangkan, belajar adalah suatu proses yang diarahkan kepada suatu tujuan, proses berbuat, melalui berbagai pengalaman. Dengan kata lain, belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari. Pengalaman memberikan wawasan, pemahaman, dan teknik-teknik yang sulit untuk dipaparkan kepada seseorang yang tidak memiliki pengalaman yang serupa. Sementara itu, belajar matematika adalah belajar salah satu ilmu yang lebih mementingkan proses daripada hasil atau jawaban itu sendiri. Dari jawaban yang diberikan seorang siswa dalam memecahkan masalah matematik, sangat diperhatikan dari mana jawaban itu diperoleh termasuk ketepatan penggunaan langkah-langkah, aturan, dan konsep. Oleh karena itu, diperlukan sebuah desain konsep pembelajaran matematika yang sekiranya dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
Peluang merupakan salah satu materi matematika yang ada di kelas IX semester dua. Materi ini termasuk materi yang sangat penting karena dimuat dalam materi UN. Untuk mengetahui cara menghitung sebuah peluang dibutuhkan konsep yang sesuai agar nilai peluang yang dicari dapat diketahui.
Konsep pembelajaran materi peluang yang sekiranya dapat meningkatkan
kemampuan pemecahan masalah matematik adalah pembelajaran yang sekiranya dapat melatih strategi-strategi penyelesaian masalah. Setiap materi (bahan ajar) didesain sedemikian rupa sehingga dapat melatih strategi kemampuan penyelesaian masalah. Yang jelas, dalam penyelesaian suatu masalah, jangan terpaku pada adanya rumus. Hal ini karena kadang kala masalah yang muncul adalah masalah yang ditimbulkan dengan adanya kegiatan/pengalaman sehari-hari. Sangat dimungkinkan adanya cara penyelesaian yang beragam, tidak terpaku pada satu cara apalagi rumus.
 Pada kesempatan kali ini penulis ingin berbagi mengenai salah satu pembelajaran inovatif mengenai cara menghitung sebuah peluang. Namun sebelumnya penulis ingin bercerita mengenai daerah penempatan SM-3T dan kondisi lembaga atau instansi tempat mengajar. Penulis ditempatkan di Pulau Sermata, Kabupaten Maluku Barat Daya, Kecamatan Mdona Hyera, Desa Mahaleta. Salah satu pulau yang bernuasa 3T di Provinsi Maluku (Ambon). Sedangkan untuk lokasi tempat mengajar berada di SMP Negeri Mahaleta. SMP Negeri Mahaleta merupakan satu-satunya SMP yang ada di desa Mahaleta dan Romdara. Memang dua desa ini sangat berdekatan. Dahulunya sekolah ini bernama  SMP Maro (Mahaleta-Romdara) yang mana sekolah ini merupakan SMP filial jarak jauh dengan SMP N 1 Mdona Hyera yang ada di Pulau Luang, yaitu pulau diseberang pulau sermata. Tapi sejak tanggal 8 oktober tahun 2013,secara resmi sekolah ini dinegerikan sendiri. Tapi sayangnya sejak SMP ini berubah status menjadi SMP Negeri, tidak ada seorang Kepala Sekolah yang pernah hadir. Bahkan yang lebih mirisnya, guru/tenaga pengajar yang setia hadir di sekolah tersebut cuma satu orang saja. Bapak Junus Woriwun, yang mana itu adalah bapak piaraku, yang menjadi PLH (Pelaksana Harian) selama delapan tahun mengurusi sekolah tersebut. Sebenarnya beliau dibantu oleh dua sekertaris desa, Mahaleta dan Romdara, yang masing-masing memegang mata pelajaran IPS dan IPA. Mereka mempunyai bekal mengajar dua mata pelajaran tersebut dari bangku SMA dan bangku kuliah yang tidak tamat. Sedangkan Bapak Junus Woriwun sendiri merupaka lulusan PGSA. Tapi dua orang sekertaris desa yang bernama Kak Dani dan Kak Ari, tidak serajin bapak Woriwun untuk pergi mengajar ke sekolah. Jadi otomatis beliau sendiri mengajar tiga kelas yang ada di SMP tersebut. Jumlah murid di SMP Negeri Mahaleta adalah 41, terdiri dari 12 siswa kelas tujuh, 17 siswa kelas delapan dan 12 siswa kelas sembilan. Pada saat aku dan temanku, Edy, dating pertama kali di desa Mahaleta, kami langsung disambut oleh bapak Junus Woriwun dan langsung diajak tinggal dibeliau punya rumah. Beliau banyak menceritakan kondisi SMP Negeri Mahaleta ini. Memang cukup miris dan sangat berat sekali tugas beliau merawat SMP ini. Bahkan yang lebih membuatku ingin mengangis adalah Beliau telah mendapat pemutusan SK PLH sejak bulan Januari 2014. Jadi otomatis beliau tidak mendapat gaji sepeserpun dari dinas pendidikan kabupaten ataupun dari sekolah induk yang ada di SMP N 1 Mdona Hyera. Tapi beliau tetap mengjar di SMP tersebut sampai akhirnya aku dan Edy datang ke SMP tersebut. Beliau berkata, saya mengajar di SMPN Mahaleta selama jangka waktu pemutusan SK PLH tersebut cuma dibayar dengan kayu bakar dan sore harinya siswa-siswi SMP N Mahaleta membantu angkat air di rumah beliau. Sungguh perasaanku cukup sedih sekali melihat fenomena ini. Betapa kejamnya Indonesiaku ini hingga ada sistem perataan penyebaran dan kesejahteraan tenaga pengajar/guru yang “sangat adil” tersebut.
Kembali pada pembelajaran inovatif, disini penulis mengajarkan cara menghitung sebuah peluang dari suatu kejadian melalui koin dan dadu. Karena keterbatasan fasilitas dan tidak adanya listrik pada daerah tersebut, menjadikan pembelajaran lebih kearah konvensional. Namun sebisa mungkin penulis membubuhkan aroma-aroma pembelajaran inovatif yang menuntut siswa berdikir kreatif tapi tetap menyenangkan. Pertama-tama siswa sejumlah 12 anak tersebut diharuskan untuk membawa sebuah koin dan sebuah dadu. Karena di daerah tesebut uang koin jarang ditemui, jadi terpaksa ketika pembelajaran uang koin di ganti dengan sejenis potongan “triplek” yang kecil. Dengan masing-masing sisinya diberi tanda muka dan belakang. Begitu pula juga dengan dadu, siswa membuat sendiri dadu yang akan digunakan. Sayangnya penulis tidak sempat mengabadikan gambar dari “triplek” dan “dadu” tersebut.
Selanjutnya penulis meminta salah satu siswa untuk mempraktekan dengan cara melempar “triplek” tersebut sebanyak satu kali dan menulis sisi apa yang muncul. Kemudian dilanjutkan untuk pelemparan dua koin sampai tiga koin. Semua hasil yang ada dicatat dan mulai di diskusikan. Hingga siswa dapat mendaftar semua kejadian yang mungkin keluar pada satu koin, dua koin dan tiga koin. Itu semua disebut dengan n(s) atau ruang sampel. Selanjutnya siswa mulai berfikir bagaimana jika menghitung peluang muncul sisi muka saja dalam pelemparan sebuah “triplek”. Ternyata setelah mengamati catatan yang diperoleh siswa dapat membandingkan banyak kejadian yang muncul dengan jumlah seluruh kejadian.
Yang kedua, berganti dengan dadu. Untuk yang satu ini sebenarnya kurang maksimal, dikarenkan dadu yang di buat oleh siswa bentuknya kurang menyerupai kubus. Jadi ada beberapa angka yang selalu keluar dan akibatnya ada beberapa angka yang sangat jarang keluar. Tetapi hal ini tidak mempengaruhi jalannya kegiatan pembelajaran dikarenakan siswa telah memahami konsep menghitung peluang, yakni dengan cara membandingkan banyak kejadian yang muncul dengan jumlah seluruh kejadian. Selain itu penulis juga mengajarkan konsep peluang ini melalui kartu bridge dan juga kartu domino. Tapi kebanyakan siswa sudah lebih paham bermain domino dibandingkan dengan menghitung peluang muncul salah satu kartu tersebut. Di akhir pembelajaran penulis memberikan sebuah teka-teki matematika untuk semakin memantapkan konsep peluang pada siswa. Berikut ini adalah teka-teki yang dimaksud,
Teka-Teki Matematika
 Dahulu kala, ada seorang putri raja yang cantik nan cerdas akan dilamar oleh 3pangeran dari negeri seberang. Ketiga pangeran ini berwajah tampan, gagah, dan bermoral baik. Oleh karena bingung memilih, Sang Putri meminta ketiga pangeran memecahkan masalah berikut. Sang Putri berkata, “Saya memiliki 3 wadah berisi kelereng. Wadah 1 berisi 1 kelereng hitam dan 1 kelereng putih, wadah 2 berisi 1 kelereng hitam dan 2 kelereng putih, dan wadah 3 berisi 1 kelereng hitam dan 1 kelereng putih. Jika sebuah kelereng saya ambil secara acak dari wadah 1 dan saya masukkan ke wadah 2, kemudian saya mengambil sebuah kelereng lagi secara acak dari wadah 2 dan segera memasukkannya ke wadah 3, berapakah peluang saya untuk mengambil sebuah kelereng hitam dari wadah 3? Bagi pangeran yang paling cepat dan jawabannya benar, itulah jodoh saya”, kata sang Putri.
Begitulah cerita salah satu pengalaman mengajar di daerah SM-3T yang membahas tentang cara menanamkan menghitung sebuah peluang melalui koin dan dadu meskipun pada kenyataannya koin tersebut di substitusi menjadi potongan triplek. Tapi hal itu justru membuat siswa lebih kreatif dalam membuat media pembelajaran yang nantinya dapat meningkatkan pengatuan serta kemampuan mereka.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertempuran Hati

The Famous Song in Kontrak'an 09