Hari
itu aku merasa gembira sekali sekaligus merasa sedikit kecewa. Memang benar
kata pepatah tua yang berbicara "Sayur tanpa garam akan terasa
hambar". Jadi apabila hidup ini cuma ada rasa gembira dan senang, tanpa disertai
dengan rasa sedih dan kecewa tidak akan lengkap.Kondisi badanku hari itu memang
agak sedikit kurang baik, rasa kantuk dan emosi yang cukup tinggi menyelimutiku
saat mengajar murid-murid di sekolah. sesampai di rumah aku langsung merebahkan
badanku, padahal kak katy dan mama sudah menyuruhku untuk makan siang terlebih
dahulu.mereka terlihat sedikit heran kala menengok terbaring di atas tempat
tidur. mereka menira aku sedang sakit. sekitar satu jam kemudian aku terbangun
dan langsung menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudlu. sehabis melaksanakan
ibadah shalat dhuhur aku langsung membuka Laptopku untuk sekedar mencari
hiburan di siang hari itu sambil menunggu datangnya murid-uridku yang bertugas
mengangkat air. Tak terasa malam pun tiba. aku teringat sewaktu di sekolah tadi
siang, aku menyuruh murid-murid kelas IX untuk datang belajar ke rumah. setelah
selesai elaksanakan ibadah shalat magrib dan mengaji ku lihat arloji sudah
menunjukkan pukul 19.00 malamku tunggu dan kutunggu murid-muridku tidak ada
satupun yang muncul. baru setelah pukul setengah delapan, segerombolan
anak-anak kelas IX ditanbah anak-anak kelas VIII dan kelas VII datang kerumah
untuk belajar.langsung kupersilahkan mereka untuk duduk di lantai dan aku juga
telah mempersiapkan buku materi matematika untuk mereka pelajari. terbersit
rasa gembiraku kala melihat mereka sangat semangat belajar, karena yang ku
tahu, khususnya anak-anak kelas IX, adalah murid-murid yang agak sedikit
pemalas waktu dikelas.tapi setelah ku bagi rata soal matematika, mereka sangat
antusias sekali dalam menyelesaikan. dengan sabar ako membimbing mereka, sampai
Ian, salah satu muri kelas IX, minta ditambah lagi soalnya. Tak terasa waktu
sudah menunjukkan jam sembilan kurang 15 menit, itu berarti kebahagiaan kami dalam
belajar akan segera usai. Padahal aku baru merasakan semangat merekayang cukup
tinggi dalam belajar masih menyala-nyala. tiba-tiba temanku edy, memanggilku
pada saat aku hemndak menjalankan shalat isya'. dia berkata "tom. sudah
jam sembilan, bubarkan saja belajarnya sambung esok lagi". lalu ku jawab
"iya sebentar lagi, anak-anak masih semangat". yang membuatku sedikit
kecewa adalah pada saat dia berkata "kata mama, anak-anak itu suruh iuran
saja untuk beli minyak solar, karena solar dibelakang sudah habis".
Perkataan itu semakin membuatku gundah, di dalam shalatku aku membayangkan
bagaimana seandainya aku berkata kepada murid-murid kesanyanganku ini untuk
iuran membeli minyak solar???.
Sehabis
melaksankan ibadah shalat isya’ aku langsung mengakhiri belajar untuk malam ini
dengan alasan lampu akan dimatikan. beberapa dari muridku menunjukkan raut uka
yang sedikit kecewa. Tapi kuyakinkan esok kita akan belajar lagi. Tak lama
setelah mereka semua pergi, lampu dimatikan. Aku tidak langsung tidur. Ku ambil
sebatang rokok dan kuhisap sambil bersandar di pelataran rumah dengan ditemani
lilin yang ditaruh di ruang tamu. Sejenak aku berfikir untuk tidak harus
memberatkan murid-muridku. Mereka semangat belajar saja aku sudah sangat
gembira, tapi kenapa mereka harus dibebankan dengan cahaya penerangan. Memang
keluarga yang aku tinggali ini termasuk keluarga yang tidak cukup berada. Tapi
mereka sangat baik sekali kepadaku. Dan akhirnya kuplih langkah yang mungkin
kurasa benar karena aku ingin menjadi Lentera mereka.
Pagi
hari aku terbangun, seperti biasa kita langsung membersihkan badan dan siap
untuk berangkat sekolah. Tapi tak kusangka Edy menyodorkan uang lima puluh ribu
kepadaku, dia bilang ini untuk kita beli minyak solar agar besok lampu
dirumahku bisa menyala lagi. Aku merasa senang sekaligus bangga melihat temanku
ini ternyata masih punya rasa kepedulian terhadap kisah perjuangan kami. Tapi
itu pun tak lepas dari perkataanku yang sedikit kasar terhadap dia. Aku bilang
ke dia, kalau seandainya kita meminta uang iuran ke murid wajar atau tidak,
dikarenakan mereka cuma memakai hanya beberapa jama saja, sedangkan sisanya
kita yang menikmati. Sebenarnya aku sedikit tak enak hati untuk mengatakan itu
semua, tapi malam itu emosiku memang tak bisa lagi dikontrol. Tapi di pagi hari
ini semuanya sudah terlihat terang, seterang pelita di malam hari, seterang
lentera ilmu putra mahaleta.
Komentar
Posting Komentar