SMP ku Jayalah selalu




“ Jayalah, jayalah SMP ku.
SMP Negeri Mahaleta.
Di sana tempat kami beljar sama-sama.
SMP Negeri Mahaleta

            Itulah lagu karya ku sendiri yang hamper setiap pagi kunyanyikan bersama murid-murid kesayanganku setiap pagi. SMP Negeri Mahaleta merupakan satu-satunya SMP yang ada di desa Mahaleta dan Romdara. Memang dua desa ini sangat berdekatan. Dahulunya sekolah ini bernama  SMP Maro (Mahaleta-Romdara) yang mana sekolah ini merupakan SMP filial jarak jauh dengan SMP N 1 Mdona Hyera yang ada di Pulau Luang, yaitu pulau diseberang pulau sermata. Tapi sejak tanggal 8 oktober tahun 2013,secara resmi sekolah ini dinegerikan sendiri. Tapi sayangnya sejak SMP ini berubah status menjadi SMP Negeri, tidak ada seorang Kepala Sekolah yang pernah hadir. Bahkan yang lebih mirisnya, guru/tenaga pengajar yang setia hadir di sekolah tersebut cuma satu orang saja. Bapak Junus Woriwun, yang mana itu adalah bapak piaraku, yang menjadi PLH (Pelaksana Harian) selama delapan tahun mengurusi sekolah tersebut. Sebenarnya beliau dibantu oleh dua sekertaris desa, Mahaleta dan Romdara, yang masing-masing memegang mata pelajaran IPS dan IPA. Mereka mempunyai bekal mengajar dua mata pelajaran tersebut dari bangku SMA dan bangku kuliah yang tidak tamat. Sedangkan Bapak Junus Woriwun sendiri merupaka lulusan PGSA. Tapi dua orang sekertaris desa yang bernama Kak Dani dan Kak Ari, tidak serajin bapak Woriwun untuk pergi mengajar ke sekolah. Jadi otomatis beliau sendiri mengajar tiga kelas yang ada di SMP tersebut. Jumlah murid di SMP Negeri Mahaleta adalah 41, terdiri dari 12 siswa kelas tujuh, 17 siswa kelas delapan dan 12 siswa kelas sembilan. Pada saat aku dan temanku, Edy, dating pertama kali di desa Mahaleta, kami langsung disambut oleh bapak Junus Woriwun dan langsung diajak tinggal dibeliau punya rumah. Beliau banyak menceritakan kondisi SMP Negeri Mahaleta ini. Memang cukup miris dan sangat berat sekali tugas beliau merawat SMP ini. Bahkan yang lebih membuatku ingin mengangis adalah Beliau telah mendapat pemutusan SK PLH sejak bulan Januari 2014. Jadi otomatis beliau tidak mendapat gaji sepeserpun dari dinas pendidikan kabupaten ataupun dari sekolah induk yang ada di SMP N 1 Mdona Hyera. Tapi beliau tetap mengjar di SMP tersebut sampai akhirnya aku dan Edy datang ke SMP tersebut. Beliau berkata, saya mengajar di SMPN Mahaleta selama jangka waktu pemutusan SK PLH tersebut cuma dibayar dengan kayu bakar dan sore harinya siswa-siswi SMP N Mahaleta membantu angkat air di rumah beliau. Sungguh perasaanku cukup sedih sekali melihat fenomena ini. Betapa kejamnya Indonesiaku ini hingga ada sistem perataan penyebaran dan kesejahteraan tenaga pengjar/guru yang “sangat adil” tersebut.
            Sejak kedatanganku dan Edy, sekarang jumlah guru di SMP Negeri Mahaleta ini menjadi tiga orang, jadi setiap harinya kami bertiga bahu-membahu, saling berkoordinir untuk mengajar dan mendidik murid-murid kebanggan negri Mahaleta-Romdara ini. Karena jumlah kelas/rombel di SMPN Mahaleta itu pas tiga kelas jadi kami lebuh mudah untuk mengatur pergantian jam pelajaran. Di SMP tersebut Bapak Woriwun sebenarnya adalah seorang guru Agama, tapi beliau juga mempunyai keahlian mengajar matpel Bahasa Indonesia, sednaagkan temanku Edy, dia sebenarnya adalah guru PPKN, tapi dia juga memegang matpel IPS dan Olahraga, dan Aku sendiri sebenarnya mempunyai “SIM” guru Matematika, tapi aku “terpaksa” harus meng-handle pelajaran IPA dan Bahasa Inggris. Khusus untuk matpel Bahasa Inggris, sebenrnya itu merupakan pelajaran yang sedikit kubenci dan kutakuti, tapi karena memang keadaan yang memaksa akhirnya mau tidak mau harus aku yang menangani.         Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan November, Kepala Sekolah yang kami nantikan akhirnya datang juga. Seorang perempuan, masih muda mungkin sekitar umur 34, yang bernama ibu Bastian datang sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri Mahaleta. Hadirnya beliau sangat membawa angin segar bagi kami, tak lama setelah kedatangan beliau, satu guru lagi, laki-laki masih muda juga sekitar umur 30an, yang bernama Piters hadir ditengah-tengah keluarga besar SMP Negeri Mahaleta. Jadi sekarang beban kami bertiga agak sedikit berkurang bahkan boleh dibilang saatnya SMP Negeri Mahaleta terbang tinggi menembus angkasa. Sosok ibu Bastian ini sangatlah dominan. Dana BOS yang sejak dahulu kala tidak pernah ada di SMP tersebut akhirnya bisa keluar, langsung dua tahap yaitu triwulan tiga dan triwulan empat. Sedangkan dana BOS triwulan satu dan dua telah diambil oleh Kepala Sekolah yang harusnya datang sejak sekolah itu dinegerikan tapi tidak pernah muncul di Mahaleta. Ibu kepala seolah akhirnya menunjukku sebagai Bendahara Dana BOS dan sekaligus Operator sekolah. Memnag awalnya aku menolak untuk tugas tambahan ini, karena aku sedikit sensitif apabila harus berurusan denganuang-uang. Tapi kembali dengan sosok Guru SM-3T yang harus siap apa saja dalam urusan apapun, akhirnya dengan penuh rasa tanggung jawab kuterima tugas tersebut. Ibu Bastian juga telah sukses membujuk kak Dani untuk kembali ke sekolah tersebut. Meski beliau tidak dituntut untuk mengajar lagi, tapi tenaga beliau sangat diperluakan untuk membatu kegiatan administrasi sekolah Tapi mungkin dikarenakan tugas beliau menjadi sekertaris desa yang lumayan sibuk, akhirnyabeliau juga sekali-sekali saja bisa menyempatkan hadir ke sekolah. Sedangkan untuk kak Ari, setelah menjadi sekertaris desa Mahaleta, sekarang beliau telah menjadi Kepala Desa Mahaleta yang baru.
           
            Bulan demi bulan terus berganti, minggu demi minggu serta hari berganti hari, SMP Negeri Mahaleta telah sampailah pada saat pelaksanaan UJIAN SEKOLAH dan UNAS. Aku dan Ibu kepala Sekolah sempat beberapa kali pergi ke Tiakur, kota kabupaten Maluku Barat Daya, untuk jalan dinas di Kantor Dinas Pendidikan Tiakur. Tujuan kami adalah melaporkan persiapan dan pengiriman data-data yang diperlukan untuk persiapan dalam menyambut UNAS, sekaligus untuk mengupayakan tempat pelaksanaan Ujian Sekolah dan UNAS agar tetap di Mahaleta. Ini dikarenakan sejak delapan tahun dahulu, siswa-siswi SMP Mahaleta selalu mengikuti Ujian Sekolah dan UNAS di SMP N Mdona Hyera yang ada di Pulau luang, desa Luang Timur. Tapi untuk tahun ini, dikarenakan juga sudah ada Kepala Sekolah definitive, kami sepakat untuk mengupayakan agar pelaksanaan ujian bisa tetap di Mahaleta saja. Tapi ternyata tuhan berkata lain, hingga akhirnya datang keputusan yang mengharuskan kita harus mandi-mandi ombak untuk menyebrang ke Pulau Luang. Karena siswa-siswi kelas IX harus mengikuti UNAS di SMP N Mdona Hyera. Sedangkan untuk Ujian Sekolah tetap ada di Mahaleta.
            Meski mereka, murid-murid SMP Negeri Mahaleta, ini berasal dari sebuah desa yang tertinggal dan terisolir karena minimnya fasilitas yang ada di karenakan memang tenaga listrik dan sinyal telpon seluler tidak ada. Tapi semangat belajar mereka cukup tinggi. Hal ini cukup aku ketahui setelah satu tahun bersama mereka menjali suka dan dukanya mengarungi ilmu pendidikan di negri ini. Selau aku berpesan kepada mereka, bahwa meski kalian tinggal di daerah yang begitu sederhana begini, tapi kalian punya semangat belajar dan mencari ilmu harus lebih dari kata sederhana. Dan aku smenitipkan sebuah pengharapan untuk mereka, yakni akan kutunggu nanti Mutira-mutiara yang akan muncul dan berkilau dari sebuah tanah yang tak pernah digali atau disentuh oleh siapapun. Jayalah Selalu SMP Negeri Mahaleta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertempuran Hati

The Famous Song in Kontrak'an 09